Kamis, 21 Januari 2016

#DiskusiRuangTengah "Etika Di Belakang Kamera : Benarkah Cover Majalah Tempo Melanggar Kode Etik ?"

#Diskusi RuangTengah
"Etika Di Belakang Kamera :
Benarkah Cover Majalah Tempo
Melanggar Kode Etik?"


Waktu :

Kamis, 21 Januari 2016

Tempat :
Gedung TEMPO, Jalan Palmerah Barat No. 8. Jakarta

Pembicara :
  1. Josep Stanley Adi Prasetyo (Dewan Pers)
  2. Oscar Motulloh (Antara)
  3. Muhamad Heychael (Remotivi)

Narasumber :
Aditya Noviansyah (Fotografer Tempo)


Sumber : NOMagz.com


...

Relaunching dan Diskusi Publik tentang Indeks Anti Korupsi Militer : Mengendalikan Risiko Korupsi di Sektor Pertahanan dan Keamanan

Relaunching
dan Diskusi Publik
tentang Indeks Anti Korupsi Militer:
Mengendalikan Risiko Korupsi
di Sektor Pertahanan dan Keamanan


Waktu :

Kamis, 21 Januari 2016

Tempat :
Hotel Akmani, Jl. KH Wahid Hasyim No. 9, Jakarta Pusat

Indeks ini mengukur resiko korupsi di institusi militer 

Narasumber 
  • Agus Rahardjo (KetuaKPK) 
  • TB Hasanuddin (Wakil Ketua Komisi I DPR RI) 
  • Sjafrie Sjamsoeddin (Mantan Wamenhan) 
  • Dedi Haryadi (Deputi TI-I 5) 
  • Tehmina Abbas (Methodology Lead-Government Index & Police TI-UK)
  • Al Araf (Direktur Imparsial) 
  • Agus Sunaryanto (Wakil Koordinator ICW) 

Moderator :
Dedi Haryadi (Deputi TI-I) 

Penyelenggara : 
Transparency International (TI) Indonesia
Dadang Trisasongko (Sekretaris Jenderal)


ULASAN Redaksi : 

Tehmina Abbas 
Penilaiannya mencakup aspek Politis, Keuangan, Pengadaan, Operasional, Personal. 

Saut Situmorang 
TNI dimata dunia not bad. Industri Pertahanan Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Indonesia 2014 GDP 2014 888,538 USD. Membandingkan dengan Iran, Turki, India, Pakistan. Transparansi Anggaran dan Realisasi Pembelian Perlengkapan Perang. 
Pencegahan Tindak Pidana Korupsi. 
1. Laporan Harta Penyelenggara Negara, dan 
2. Pengendalian Gratifikasi. Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. Biaya yang dikeluarkan KPK untuk pencegahan lebih besar dibanding untuk penindakan. Jumlah 1.500 karyawan KPK masih kurang. Idealnya 4.000 orang. 

Al Araf 
Intra state conflict. Asimetric war. Perdagangan di alat pertahanan dan keamanan. Bisnis ilegal Narkoba dan Senjata menjadi problem utama negara. Prajurit resah saat menggunakan persenjataan yang dibeli dengan indikasi terjadinya korupsi saat pengadaannya. Transparansi dan akuntabilitas di sektor pertahanan menjadi kunci. 
Isu pokok :
1. Melibatkan broker. 
2. Anggaran non budgeter. 
3. Kemana aset-aset bekas pakai militer? 
4. Pengawasan DPR (komisi I hampir nihil). 
Reformasi Peradilan Militer. RUU Rahasia Neg dibatalkan Membeli dari negara-negara yang transparan. Pembelian senjata secara G to G. Tidak membeli peralatan bekas. 

Agus Sunaryanto 
Pengadaan ALUTSISTA itu ibarat kentut tidak terlihat tapi tercium baunya. Adakah kemauan dan dukungan bagi penegakan hukum? G to G atau beli langsung dari pabrikannya. 
  
Penutup oleh Dadang Trisasongko 
Kunci utama ditangan Presiden. Konsolidasi masyarakat sipil. KPK punya peranan penting. Broker punya pengaruh penting karena punya jaringan politis.


Sumber : NOMagz.com

Diskusi Tempo Institute "Mengenang Ben Anderson : Membedah Imajinasi KeIndonesiaan"

Diskusi Tempo Institute
Mengenang Ben Anderson :
Membedah Imajinasii KeIndonesiaan


Waktu :

Rabu, 20 Januari 2016

Tempat :
Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No. 8, Jakarta Barat

Narasumber :
  1. Goenawan Mohamad (Jurnalis Senior) @gm-gm
  2. Amrih Widodo (Pengajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Australian National University), 

Moderator :
Sandra Hamid 

Penyelenggara : 
  • TempoInstitute
  • Forum Nulistik
  •  
     

@TempoInstitute: Indonesianis besar Ben Anderson wafat di Batu, Jawa Timur, pada usia 79 tahun. #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Ia seorang yang begitu cinta kepada Indonesia. #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Ia banyak memberikan sumbangan kepada Indonesia #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Membongkar dasar-dasar legitimasi pendirian Orde Baru #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Ben adalah peneliti yang memiliki tempat & pesona tersendiri dalam membaca sejarah modern Indonesia. #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Ia pernah dicekal selama 27 tahun #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Ia dianggap membahayakan karena pembacaannya atas pristiwa pembunuhan jenderal pada 1965 beda dengan versi pemerintah Orba #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Masa-masa itu, Ben sangat merindukan Indonesia, tapi terbentur daftar hitam #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Pernah ia coba masuk pada 1983 karena telah mendapat izin resmi KBRI di Amerika #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: untuk mghadiri konferensi sastra & bahasa Asia Tenggara di Jakarta #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Tapi, baru beberapa menit menjejak Bandar Udara Kemayoran, ia diminta hengkang saat itu juga #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Ben menjadi sosok yang "anti-tata". #DiskusiNulistik #Tempo45 @Nulistik @TempoInstitute: Dalam dunia akademis pun Ben melihat segala sesuatu dari sisi pinggiran, bukan dari perspektif atas #DiskusiNulistik #Tempo45 
@Nulistik @TempoInstitute: Dan "anarkisme" ini memberi kontribusi bagi penelitian Indonesia #DiskusiNulistik #Tempo45 @Nulistik 

ULASAN Redaksi : 

Goenawan Mohamad (Jurnalis Senior) 
Cerita perkenalannya dgn Ben melalui Soe Hok Gie dan Ong Hok Ham. Beliau lebih dekat dengan Arif Budiman yang sama-sama kuliah di Fakultas Psikologi UI. Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme terbuka. Nasionalisme bisa juga berbahaya. Contohnya Hitler yang Xenophobia. 
Bangsa adalah kecelakaan sejarah yang datang dari masa lalu yang tidak terbatas. Revolusi pemuda adalah fenomenal. Ben dekat dengan para pemuda (generasi muda). Terbukti kuliah umumnya di UI Depok dan di Surabaya banyak pesertanya adalah orang muda. Kita harus dapat melihat apa yang tidak terlihat oleh mata. Baru membaca Cornell Paper 3 tahun yang lalu. Ben mempelajari bukan hanya mempelajari nasionalisme dari materialisme sejarah; tapi juga aspek budaya dan bahasa. 

Amrih Widodo
Teori menjadi seorang raja Jawa menurut Cornell. Orang Jawa juga rasional seperti orang Barat (bule). Ada hubungan korespondensi yang dekat antar Ben dengan Pramudia Ananta Toer dan Sumaryono (di Rusia). 
Obsesi Ben yang belum terealisasi :
1. Menguak misteri peristiwa 1965. 
2. Memilih penerbit kecil untuk bukunya. 
Reproduksi teks sangat membantu membahas nasionalisme ala kaum Samin.


Sumber : NOMagz.com

Rabu, 20 Januari 2016

Dell Media Gathering 2016 "The Power to Impress"

Dell Media Gathering 2016
"The Power to Impress”


Waktu :

Rabu, 20 Januari 2016

Tempat :
De Leila, FX Sudirman, lantai 8,
Jalan Jendral Sudirman, Pintu Satu, Senayan, Jakarta Selatan

Dell sebagai penyedia solusi TI end-to-end terkemuka, akan memperkenalkan lini produk Consumer dan Commercial terbaru mereka di awal tahun ini. 
Dengan tema “The Power to Impress”, Dell menampilkan update dari produk-produk Dell Inspiron Series, Dell XPS Series, Dell Latitude Series, Dell Precision Series, dan Dell Optiplex Series.
Jadilah bagian dalam acara ini dan menjadi yang pertama kali melihat produk terbaru Dell. 

Pembicara :
  • Catherine Lian (Country Manager Dell Indonesia)
  • Ray Wah (Vice President, Consumer Product Marketing, Dell Inc.)


ULASAN : 

Sambutan :
Catherine Lian
Ada 13 produk baru yang diluncurkan hari ini. Baik untuk konsumen pribadi maupun perusahaan. Tahun 2016 tetap melanjutkan pertumbuhan dan investasi di Indonesia. 

Yohan Wijaya (Intel indonesia)
6TH GEN INTELL CORE Mobile Processor Computing Innovation yang bersifat :
1. New High Performance Uses 
2. Personal Computing Expansion 
3. New Experiences Broadest Range of Designs. Y, U, H, S, Series. 
Our Best Mobile Processor Ever yaitu 6TH GEN INTELL CORE Mobile Processor :
1. Most Scalable Mobile Processor Ever 
2. Most Energy Efficient Intell Core Ever 
3. Best Intell Graphics Ever Desktop, 
Meet 6TH GEN INTELL CORE Mobile Processor. New Form Factors and Experiences. Stunning Visual Performance. Powerful Intell 500 Series Graphics. 


Ray Wah 
Dell's best consumer portfolio in company history. Dell's XPS 13 Review. Design Inspiration. Easy to set up. Easy to use. More room to dream. 

Amit Mukherje (Product Marketing Sr. Manager)
Older PCs can't keep up with workplace The user's world is cobstantly changing All users are not the same. The right device for the work at hand. Mobile devises. Fixed workspace. Dell commercial laptops.
  
Sumber : NOMagz.com


...

Selasa, 19 Januari 2016

The INDONESIAN FORUM Seri 35 : "Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Isu Ketenagakerjaan"

The INDONESIAN FORUM
Seri 35:
Masyarakat Ekonomi ASEAN
dan Isu Ketenagakerjaan”


Waktu :

Selasa, 19 Januari 2016

Tempat :
Ruang Diskusi The Indonesian Institute,
Gedung Pakarti Center Lantai 7, Jl. Tanah Abang III No 23-27. Jakarta Pusat

Fokus Diskusi : 
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah berlangsung sejak akhir tahun ini bermaksud untuk mentransformasi kawasan ASEAN menjadi satu pasar dan basis produksi. Dengan karakteristik utama terdapat kemudahan berpindah bagi tenaga kerja terdidik (ASEAN, 2008 dalam Sugiyarto dan Agunias 2014). 
Buat pekerja terdidik pasar bersama ini menjadi peluang yang menarik. Namun, bagaimana bagi pekerja yang tidak terdidik? Mengacu pada data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) terdapat sejumlah 144 juta angkatan kerja di Republik ini, dimana sekitar 90 persen dari angkatan kerja tersebut tidak sampai pendidikan tinggi. Dari 90 persen hanya 20 persen lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan sebagian besar hanya mengenyam Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Pertama. Data ini konsisten dengan permasalahan kualitas pekerja kita. 
Perdana (2014) mempermasalahkan kesenjangan keterampilan bukan saja soal lamanya seorang pekerja menempuh pendidikan formal. Banyak pekerja yang masih terkendala kurangnya soft skill maupun keterampilan adaptasi mengoperasikan teknologi baru. Sementara itu, Sugiyarto dan Aguinas (2014) memaparkan visi pendiri ASEAN tentang pergerakan tenaga kerja memang berbeda dari praktek kawasan lain, seperti Eropa maupun Caribbean Community (CARICOM). Uni Eropa lebih mengedepankan pada kebebasan bergerak (free flow) yang artinya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga Eropa untuk bergerak, tinggal hingga mencari pekerjaan tanpa melihat keahlian yang dimiliki. Juga berbeda dari kawasan lain di Karibia, dimana otoritas lima belas negara di kawasan tersebut memberikan kebebasan visa bagi kalangan terdidik. 
ASEAN lebih mengutamakan fasilitasi pergerakan yang lebih bebas (“freer” flow) melalui implementasi 2 kebijakan: pertama, Mutual Recognition Agreement (MRAs) di masing-masing negara dan kedua kerangka kerja kualifikasi ASEAN (ASEAN Qualification Framework). Dengan demikian, ASEAN lebih realitis ketimbang Uni Eropa namun kurang ambisius dibandingkan CARICOM. Hal ini dapat dipahami perkembangan ASEAN dari perjanjian politik kawasan yang mendorong stabilitas kawasan, kemudian berkembang menuju satu pasar bersama berbeda dari Uni Eropa yang bergerak dari Masyarakat Ekonomi Eropa menjadi Kesatuan politik dalam bentuk Federasi Eropa. 
Tantangan bagi kawasan juga Indonesia diantaranya: 
pertama, dari sisi migrasi intra-ASEAN didominasi oleh pekerja-pekerja tidak terdidik sekitar 87 persen dari total migrasi orang sekawasan. Selain pekerja yang tidak terdidik tadi, terkonsentrasi hanya pada beberapa koridor diantaranya 5 koridor utama: Myanmar ke Thailand, Indonesia ke Malaysia, Malaysia ke Singapura, Laos ke Thailand, dan Kamboja ke Thailand (MPI, 2014). 
Kedua, perkembangan yang mendorong mobilitas pekerja terdidik lambat dan tidak seimbang karena sulitnya mengadaptasi kebijakan domestik, serta aturan-aturan bagi provisi MRAs, termasuk didalamnya kurangnya dukungan politik dan juga dukungan publik terhadap MRAs maupun kerangka kerja kualifikasi ASEAN. 
Kemenaker berupaya mempersiapkan kompetensi pekerja melalui Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) maupun Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Selain itu, Kemenaker juga mempersiapkan balai latihan kerja guna mempersiapkan pekerja Indonesia terutama mereka yang memiliki kesulitan akses terhadap pengembangan diri. 
Selain dua tantangan diatas, kita masih menemui keengganan pengusaha memperluas bisnis mereka, utamanya mengembangkan merek lokal menuju regional brand. Yang artinya pengusaha berekspansi bisnis ke negara-negara di kawasan ASEAN. Hal ini diutarakan oleh Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani seperti dikutip Jakarta Post (Kamis, 14 Januari 2016). Di sisi publik, survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan hanya 25 persen yang mengetahui dan memahami MEA dengan kurang dari 18 persen yang memahami MEA artinya peluang bagi mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan di kawasan. 
Berkaca dari persoalan-persoalan diatas, The Indonesia Institute danSuaraKebebasan.org mengadakan The Indonesian Forum pertama di tahun 2016 mengangkat tema “Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Isu Ketenagakerjaan”. 

Pengantar diskusi oleh :
Hanif Dhakiri (Menteri Ketenagakerjaan RI) 

Narasumber :
  • Ninasapti Triaswati (Board The Indonesian Institute dan Ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) 
  • Muhamad Ikhsan (Redaktur Pelaksana SuaraKebebasan.org) 

Moderator :
Arfianto Purbolaksono (Peneliti The Indonesian Institute) 

Penyelenggara : 
The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) 
Raja Juli Antoni, Ph.D (Direktur Eksekutif)


ULASAN : 

Ninasapti Triaswati 
Apakah harus khawatir menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN? Manfaat positipnya :
1. memperluas pasar; 
2. lapangan kerja; 
3. peningkatan nilai tambah. 
Yang paling dipersoalkan masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia. Aturan-aturan apa yang harus disiapkan pemerintah ? Tantangan :
1. persaingan produk semakin ketat di pasar dalam negeri; 
2. persaingan pekerja semakin ketat (pariwisata, perdagangan, jasa kesehatan/perawat, keuangan [akuntan]). 
Kebijakan non-tariff misalnya penguasaan bahasa Indonesia; pengalaman kerja; Target keberhasilan--> surplus neraca pembayaran dan neraca pekerja. Neraca perdagangan Indonesia terhadap ASEAN di 2015 surplus. 
Rekomendasi :
1. meningkatkan kualitas TKI; 
2. Memperkuat Sistem Informasi Pekerja; 
3 Memperkuat kebij Non-Tariff bagi produk dan pekerja Indonesia. 
Malaysia dianggap unggul di sektor pendidilkan. 

Hanif Dhakiri 
Masyarakat menganggap MEA seperti bendungan yang dibuka dan pagar pembatas dua pasukan dibuka. Di Malaysia ada 2 juta TKI, di Timteng 3 juta, di Hong Kong 150 ribu. MEA bentuk konsolidasi ASEAN untuk memperbaiki daya saing dan kerjasama dalam menghadapi kekuatan pasar global. Pemerintah harus didukung masyarakat, asosiasi usaha, akademisi, dan stake holders lainnya. 
Kita harus menyepakati isu ketenagakerjaan menjadi isu utama bukan isu pinggiran. 2/3 pekerja Indonesia hanya lulusan SMP. Rata-rata lulusan kelas 2 SMP. Kita perlu terobosan apa yang harus dilakukan sekarang, yaitu pelatihan kerja. Dari kemampuan TKI mampu. Misal untuk grading tembakau orang Temanggung bisa menentukan mutu tembakau dengan hanya membauinya. Quality of service TKI sudah OK. Mampu tapi tidak bersertifikasi, sehingga belum dianggap kompeten. 
Pemerintah fokus pada 
1. peningkatan kemampuan 
2. pelatihan keterampilan 
3. pembatasan Tenaga Kerja Asing. 
Kita tidak perlu khawatir berlebihan terhadap TKA, selama membawa manfaat bagi ekonomi kita. Masing-masing sektor didorong meningkatkan kompetensi. Kerangka Kualifikasi Indonesia belum ada. Kemenaker berfungsi sebagai Koordinator dan konsolidator. Semua Kementerian terkait dalam menghadapi MEA. Misal Permen. Sertifikasi tenaga kerja menjadi dasar pengakuan kompetensi, melibatkan Lembaga Sertifikasi Profesi. Sertifikasi harus Accessible. 
Kita tetap optimis menghadapi MEA. Bukan produk unggulan yang kita utamakan tapi kegiatan unggulan. Baginya, MEA lebih merupakan konsolidasi ASEAN sebagai sebuah region. Jadi di satu sisi ada persaingan di antara sesama negara ASEAN, selain juga ada kerjasama. Sehingga diharapkan ASEAN nantinya lebih punya kekuatan, menghadapi kekuatan-kekuatan global. Selain soal-soal terkait ekonomi, juga ada hal-hal terkait masalah sosial dan politik. 

Muhamad Ikhsan 
Point of no return dalam menghadapi MEA. Pemerintah perlu lebih terlihat misal dalam penanganan TKA ilegal. Indonesia menghadapi masalah border dengan negara tetangga. Public engagement yang masih rendah dalam menghadapi MEA. Seorang pedagang punya banyak dagangan yang bisa dijalankan; sedang seorang pekerja hanya punya satu pekerjaan . "Paul Krugman"
 
Sumber : NOMagz.com



...

Senin, 18 Januari 2016

Peluncuran Laporan pemantauan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan Tahun 2015

Peluncuran
Laporan Pemantauan
Kebebasan Beragama/Berkeyakinan
Tahun 2015


Waktu :

Senin, 18 Januari 2016

Tempat :
Bakoel Koffie, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat

Sekali lagi, "Intoleransi adalah titik mula dari Terorisme dan Terorisme adalah puncak Intoleransi." Saatnya kita mulai melawan terorisme secara sistematis dan berkelanjutan, TOLAK praktik-praktik intoleran dan kekerasan atas nama agama!! 

Narasumber : 
  • Hendardi Halili (Ya Dosen UNJ)
  • Ismail Hasani 
  • Bonar Tigor Naipospos 
  • Benny Susetyo 

Penyelenggara : 
SETARA Institute
Hendardi, Ketua


ULASAN :

Hendardi 
Tahun 2016 adalah tahun penyelenggaraan kesembilan. Tujuannya untuk memperbaiki data kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan Tahun 2015. Isu penting karena ada kejadian Bom Bunuh Diri di Jl. Thamrin Jakarta. 
Intoleransi adalah titik awal terorisme. Secara berkelanjutan menolak intoleransi. Janji Jokowi di Nawa Cita, belum ada bukti nyata yang memuaskan. Gagal direalisasikan/diterjemahkanoleh para Menteri. Tanpa aktifnya masyarakat dan permisifnya masyarakat maka upaya pemerintah akan mengalami kesulitan. "Kita tidak takut. Partisipasi masyarakat dibutuhkan, begitu juga Setara institute untuk melakukan program toleransi. 

Halili 
Evaluasi kebijakan di tingkat pemerintah implementasi dalam bentuk regulasi. 2015 ada peningkatan cukup significan. Di 2014 ada 137 pelanggaran dengan 177 tindakan. 2015 ada 196 peristiwa dengan 236 bentuk tindakan. Paling tinggi di Juli 2016 ada 31 peristiwa dan Oktober 2015 ada 27 peristiwa. Sebaran wilayah tertinggi ada di Jabar 44 peristiwa, NAD 34 Peristiwa, Jatim 22 peristiwa, DKI Jakarta 20 peristiwa, DI Jogjakarta 10 peristiwa. Aktornya Pemkab/PemKot 31 tindakan, Kepolisian 16 tindakan, satpol PP 15 tindakan. Misal pelarangan acara Asyura di Bogor, pelarangan mendirikan rumah ibadah (di Bogor, Bekasi, NTT, NAD).
Ada 5 aktor non-negara adalah warga 44 tindakan, FPI 13 tindakan, Aliansi ormas Islam 13 tindakan, MUI 12 tindakan, tokoh Agama/ masyarakat 5 tindakan. 
Sebanyak 5 pelanggaran negara, yakni Pemaksaan keyakinan/menjalankan agama 31. Teratas non negara intoleransi 33, penyesatan 22. Kelompok korban Syiah 31, warga 29, umat kristen 29, umat Islam 24, aliran keagamaan 14.
Trend peristiwa dan tindakan dalam 9 tahun terakhir. 2015 197 peristiwa 236 tindakan. 2014 134 kejadian 177 Tindakan.
Sebanyak 8 butir ruang kebebasan di Nawa Cita, di antaranya :
1.Bagaimana standing position presiden ?. Jkw mengatakan kita harus menghilangkan kepura-puraan. 
2. Agenda pembangunan. RPJMN cenderung diskriminasi dan interventionis. 
3 Regulasi kementerian. Yang minoritas harus manut mayoritas. Misal bab keyakinan beragama.
4. Perubahan sosial kultural. Pemerintah tidak punya grand design untuk perbaikan sosial politik. Surat edaran Kapolri tentang Hate Speech. 
Kemendagri mengklarifikasi ada 23 Perda diskriminatif. Standing Presiden, Mendagri dan Menag in-line maksudnya satu sikap.

Ismail Hasani 
Surveynya dilakukan si 20 propinsi. Misalnya terhadap umat Syiah terjadi pengusiran dan pembakaran property (1 kejadian dengan 2 peristiwa). Data sekunder dari media massa Dan in-depth interview. Pendekatan HAM meletakkan negara di posisi utama. Selama 9 tahun ada 1867 peristiwa dan tindakan. 346 tempat ibadah mengalami gangguan. Terutama tempat Ibadah Kristiani. 
Menagih janji Jkw-JK saat maju sebagai kandidat Presiden dan Wakil Presiden. Faktanya harapan belum terwujud. Ada beberapa tindakan Positip. Sangat relevan dengan insiden bom Thamrin. Transformasi dari radikalisme menjadi teroris. Misal Moh Abduh, Bahrun Naim. Potret intoleransi yang memang nyata. Mitigasi terorisme belum terjadi. Reproduksi aktor-aktor masih terjadi. Mendorong enerji positip pasca Bom Thamrin.

Bonar Tigor Naipospos
Tangga-tangga menuju teroris sebagai berikut 
1. Persepsi
2. Adaptasi intoleransi (pasif & aktif). Agama juga mengajarkan fanatisme yang menganggap agamanya paling benar. Hukum dan relasi sosial membatasi. Intoleransi aktif dalam pikiran, ucapan dan tindakan, misal FPI. 
3. Tangga ekstrim. 
4. Tangga radikalisme. 
5. Tangga terorisme. Tidak selamanya tangga-tangga itu jalan berurutan. Intoleransi 'tanda awal' menuju terorisme. Menag, Mendagri, Menko Polhukham harus bersinergi. Bom Thamrin adalah kegagalan pemerintah (kecolongan). Pemerintah terlalu cepat menyatakan pendapat. Aktor intelektualnya Arman Abdulrahman atau Bahrun Naim. Menurutnya Jaringan lokal dibawah Arman Abdulrahman. Apakah pemerintah Jokowi punya kapasitas untuk mengendalikan intoleransi ? 2014 terjadi penurunan kejadian. Komitmen Jkw, Menag dan Mendagri yang lebih baik. Respect, memelihara, melindungi. Kemenag UU Perlindungan Umat Beragama drafnya buruk. UU Penistaan Agama, SK Achmadiah, SK pendirian Rumah Ibadah. 
Pemerintah menyadari kebhinekaan masyarakat. Dan masih mengulang program yang sudah ada. Harusnya ada kerjasama dengan Kemendikbud. Selama ini program deradikalisasi hanya mendatangkan ulama dan bacaan. Tapi perlu dan harus menarik dari lingkungannya dan dislokasi. Tidak mudah mengubah keyakinan sesorang. Kalau tidak ada perubahan 2016 akan banyak kejadian kekerasan dan intoleransi. 
Problim rumit adalah relasi pemerintah pusat dengan pemda. Komitmen lokal. Bupati Banyuwangi, Situbondo bagus. Bogor jelek karena berpolitik. Domain Agama adalah pemerintah pusat bukan pemda. Kendala yang dihadapi Jokowi di 2015 kegaduhan politik, fokus ekonomi & infrastruktur; ekonomi global yang suram.

Benny Susetyo
Intoleransi membahayakan kesatuan bangsa. Negara harus hadir. Bagaimana itu diterjemahkan. Pendidikan ditinjau ulang. Keberanian merebut ruang publik. Karena tidak ada counter ideologi. Kampanye besar-besaran agama yang toleran. Sinkronisasi Mendagri, Menag dan Mendikbud. Jangan sampai kekerasan dianggap hal yang biasa. Memutus sebuah kesadaran yang penuh kepalsuan yang tidak mengakui kebhinekaan. Nilai-nilai Pancasila dimasyarakatkan.
Agama disalahgunakan untuk kepentingan politik jangka pendek. Orang beragama harus cerdas. Teks dilihat teks tanpa melihat konteknya. Agar pemerintah serius menangani .

Tanggapan : 

Indra (umat Syiah)
Terkait Isu global Timur Tengah, ISIS. Teror oleh pemKab/PemKot lebih mengemuka dibanding oleh kelompok intoleran. Sesuai Nawa Cita melakukan dialog, terintegrasi. Pemerintah Pusat tidak berdaya menghadapi Pemda. Dialog-dialog kultural cara penyelesaian yang baik. 
Yenny Wahid mengatakan perlu militansi untuk melawan kelompok-kelompok intoleran. Nilai agama universal yang peduli kepada semua masyarakat.
 
Sumber : NOMagz.com


...

Minggu, 17 Januari 2016

PELANTIKAN Pengurus Besar KB PII Periode 2015-2019

PELANTIKAN
 Pengurus Besar
KB PII
Periode 2015-2019


Waktu :

Minggu, 17 Januari 2016

0 Tempat :
Gedung A Lantai 3. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Jalan Jend Sudirman, Senayan

Orasi : 
Bapak Anies R. Baswedan Ph.D., (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI)

Sambutan : 
  • Nasrullah Larada (Ketua Umum) 
  • H. Soetrisno Bachir, S.E. 

Pembaca susunan pengurus PB KB PII :
Ghufron 


ULASAN : 

Sambutan H. Soetrisno Bachir, S.E. 
Periodenya ada program-program. Pemimpin berhasil kalau berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Guru berhasil kalau mantan muridnya lebih pintar dari dirinya. Jack Ma (pemilik Alibaba) Era kemarin era IT, kedepan era data (Google). PII tidak mungkin hedonis, narkoba, pornografis. 

Sambutan Nasrullah Larada (Ketua Umum PB KB PII)
Sebanyak 90% anggota PB KB PII yang dilantik adalah generasi muda yang berusia dibawah 50 tahun. Tonggak program dan ekonomi dari kepengurusan sebelumnya, akan dilanjutkan. Akan meningkatkan daya saing. Kemudian fokus ke pendidikan. Dan minta dukungan Mendikbud. Persoalan guru, kurikulum. Pengembangan ekonomi kreatif. Berkontribusi kepada pendidikan Islam Indonesia. Mendukung UU Sistem Pendidikan Nasional. Tidak berafiliasi ke salah satu partai tertentu. Tapi menjalin komunikasi politik dengan partai politik. 

Sambutan Anies Baswedan
PII organisasi yang pro Indonesia tulen. Selalu memulai acara dengan menyayikan Indonesia Raya. PII harus berkompetisi dengan organisasi untuk melahirkan kader-kader berkompeten. Umat Islam gagal karena gagal membaca perubahan. Orang yang berhasil adalah orang yang memadukan jalur intra dan ekstra kurikuler serta non kurikuler. Pengetahuan jadi kekuatan terutama/kunci pembelajaran. Knowledge is power. Yang selanjutnya menciptakan followership. Yang diikuti kesejahteraan. 
4 C yang perlu dimiliki yakni critical thinking; communication skill; Collaboration skill; competency. Government is shrinking, market and economic is growing. Di jerman dikenal istilah Social Market Economy mirip ekonomi Pancasila. Free market and fair market muncul karena informasi simetrik. Periode intelektual (1908-1945), periode perwira militer (1945-1997), aktivist (1998-kini); entrepreneur (10 tahun kedepan) . Leadership and entrepreneurship perlu diajarkan untuk generasi masa depan. Misal Kemendikbud mengadakan acara Kawah Kepemimpinan Pelajar. Jalan mendaki akan menghasilkan puncak-puncak prestasi. 
Kemendikbud akan mengajarkan penguasaan International knowledge, international language, international network. Indonesia membutuhkan orang-orang yang mau konsisten bekerja marathon bukan 'hit and run'.

Sumber : NOMagz.com


...